Dua hari lagi tanggal 10 November 2011 yang berarti adalah Hari Pahlawan. Hem, begitu banyak pahlawan nasional yang sudah menghabiskan waktu hidupnya demi bangsa Indonesia tercinta ini. Meskipun begitu banyak dari mereka yang terlupakan. Bahkan banyak yang tidak tahu siapa saja pahlawan nasional itu.
Selain beliau-beliau yang sudah tercantum namanya di buku pelajaran di bangku sekolahan, hari ini, Selasa, 8 November 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan anugerah kepada beberapa putra-putri Indonesia yang kemudian dijadikan pahlawan nasional. Sebanyak tujuh putra terbaik bangsa Indonesia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Penganugerahan di laksanakan di Istana Negara.
Siapa sajakah mereka? Apa saja yang sudah mereka lakukan untuk bangsa ini?
1.
Syafruddin Prawiranegara (1911 – 1989)
 |
| Syafrudin Prawiranegara |
Beliau adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.
Beliau dinilai pantas mendapatkan gelar Pahlawan Nasional atas jasanya memperatahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari penjajahan Belanda.
2.
KH Idham Chalid (1921 – 2010 )
 |
| KH Idham Chalid |
Beliau adalah salah satu politikus dan menteri Indonesia yang berpengaruh pada masanya. Selain sebagai politikus ia aktif dalam kegiatan keagamaan dan beliau pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984.
3.
Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan
Buya Hamka (1908 – 1981)
 |
| Buya Hamka |
Beliau adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.
4.
Ki Sarmidi Mangunsarkoro (1904 - 1959)
 |
| Ki Sarmidi Mangunsarkoro |
Beliau adalah pejuang di bidang pendidikan nasional, ia dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1949 hingga tahun 1950. Perjuangan Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam bidang pendidikan, di antaranya pada tahun 1947 Ki Sarmidi Mangunsarkoro diberi tugas oleh Ki Hadjar Dewantara untuk memimpin penelitian guna merumuskan dasar-dasar perjuangan Tamansiswa, dengan bertitik tolak dari Asas Tamansiswa 1922. Dalam Rapat Besar Umum Tamansiswa Tahun 1947 hasil kerja ‘Panitia Mangunsarkoro’ bernama Pancadarma itu diterima dan menjadi Dasar Tamansiswa, yaitu: Kodrat Alam, Kemerdekaan, Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan.
Ki Sarmidi Mangunsarkoro pada tahun 1928 ikut tampil sebagai pembicara dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 menyampaikan pidato tentang ‘Pendidikan Nasional’, yang mengemukakan bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan dan dididik secara demokratis, serta perlunya keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di ruma
5.
I Gusti Ketut Pudja (ahli waris/perwakilan IGM Arinta Pudja)
 |
| I Gusti Ketut Pudja |
Beliau merupakan salah satu puta bangsa Indonesia suku Bali yang hampir dilupakan. Tahun 1935 beliau mengabdikan dirinya pada kantor Residen Bali dan Lombok di Singaraja. Dalam penyusunan UUD 1945, beliau memegang peranan yang sangat penting, karena dalam rumusan Panitia Sembilan yang disebut
Jakarta Charter atau Piagam Jakarta di mana dalam sila Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, sebagian dari warga Indonesia bagian timur tidak menyetujuinya termasuk I Gusti Ketut Pudja, dan menyarankan "Ketuhanan Yang Maha Esa".
Pada tanggal 22 Agustus 1945, I Gusti Ketut Pudja diangkat oleh Presiden Republik Indonesia untuk menjabat Gubernur Sunda Kecil yang pada waktu itu disebut "Wakil Pemimpin Besar Bangsa Indonesia Sunda Kecil". Pada tanggal 23 Agustus 1945, beliau memulai tugas baru di Bali.
6.
Sri Susuhunan Paku Buwono X (1866 - 1939)
 |
| Sri Susuhunan Paku Buwono X |
Beliau adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893 – 1939. Masa pemerintahannya ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana politik kerajaan yang cenderung stabil, di samping itu juga merupakan penanda babak baru bagi Kasunanan Surakarta dari kerajaan tradisional menuju era modern. Pakubuwono X menikah dengan Ratu Hemas (putri Raja Hamengkubuwono VII) dan dikaruniai seorang putri yang bernama GKR Pembajoen. Meskipun berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun melalui simbol budayanya Pakubuwana X tetap mampu mempertahankan wibawa kerajaan. Pakubuwana X sendiri juga mendukung organisasi Sarekat Islam cabang Solo, yang saat itu merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional Indonesia.
7.
Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (1900 – 1986)
 |
| Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono |
Beliau adalah salah seorang pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan salah seorang pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai beberapa Menteri setelah Indonesia merdeka. Ia jugalah yang memberi teladan bahwa berpolitik itu pengorbanan tanpa pamrih. Berpolitik selalu memakai
beginsel atau prinsip yang harus dipegang teguh. Seperti yang disampaikan oleh pemimpin umum harian Kompas, Jakob Oetama, ia adalah salah satu tokoh yang menjunjung tinggi moto
salus populi supremalex, yang berarti kepentingan rakyat, hukum tertinggi, yang merupakan cermin etika berpolitik yang nyaris klasik dari tangan dirinya. Karena perjuangannya, Kasimo mendapat anugerah Bintang Ordo Gregorius Agung dari Paus Yohanes Paulus II dan diangkat menjadi Kesatria Komandator Golongan Sipil dari Ordo Gregorius Agung.
Dalam kesempatan yang sama, sejumlah orang juga mendapat anugerah tanda kehormatan. Tokoh seni Betawi
Benyamin Sueb mendapat tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma atas jasa-jasanya selama hidup dulu dalam mengembangkan seni budaya.
 |
| Benyamin Sueb |
Selain mereka yang sudah disebutkan di atas, masih banyak pahlawan-pahlawan nasional yang jasa-jasa begitu besar bagi bangsa dan Negara ini, namun namanya tidak terdengar. Meski begitu sudah sepatutnya sebagai generasi muda untuk menghargai jasa-jasa mereka. Bukan dengan saling kritik atau saling menyalahkan pemerintah dengan masyarakat. Bukan saling mengoreksi teman. Bukan dengan berpikir apa yang kita dapat dari negeri tercinta ini. Tapi apa yang sudah kita lakukan untuk negeri tercinta? Semuanya di mulai dari hal yang kecil dan dimulai dari diri sendiri.
Feel free to express yourself to our beloved country!
Feel free to give what you have to our beloved country!
Our beloved HOME !