Selasa, 17 April 2012

TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER


Taman Nasional Gunung Leuser merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan pantai, dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan. Jenis batuannya terdiri dari batuan sedimen, batuan vulkanik, batuan kapur, batuan pluton, batuan alluvium dan batuan lainnya, keadaan tanahnya didominasi oleh komplek podsolik coklat, podsolik dan litosol.
Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar biosfir. Berdasarkan kerjasama Indonesia - Malaysia, juga ditetapkan sebagai "Sister Parks" dengan Taman Negara National Park (Malaysia).

Potensi Flora

Kawasan terdiri dari hutan pantai/rawa, hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi dan pegunungan yang sebagian besar kawasan didominir oleh ekosistem hutan Dipterocarpaceae dengan flora langka khas Raflesia atjehensis dan Johanesteinimania altifrons (pohon payung raksasa) dan Rizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar, langka dan dilindungi dengan diamater 1,5 meter. Selain itu, itu terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan paceklik.
Taman Nasional Gunung Leuser, memiliki penyebaran vegetasi hutan yang komplit mulai dari vegetasi hutan pantai/rawa, hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi dan pegunungan. Diperkirakan ada sekitar 3.500 jenis flora.

Potensi Fauna

Taman Nasional Gunung Leuser juga kaya akan jenis fauna mulai dari Mamalia dan/Primata, Carnivora, Herbivora, Aves, Reptil, Amphibi, Pisces dan Invertebrata. Diperkirakan ada sekitar 89 jenis satwa yang tergolong langka dan dilindungi ada di sini di samping jenis satwa lainnya.
Untuk jenis mamalia dan/Primata Taman Nasional Gunung Leuser memiliki 130 jenis mamalia atau sepertiga puluh dua dari keseluruhan jenis mamalia yang ada di dunia atau seperempat dari seluruh jumlah jenis mamalia yang ada di Indonesia. Diantaranya yang paling menonjol adalah Mawasa (Pongo pygmaeus abelii), Sarudung (Hylobates lar), Siamang (Hylobates syndactilus), Kera (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestriana) dan Kedih (Presbytis thomasi). Untuk jenis satwa carnivora seperti Macan dahan (Neofelis nebulosa), Beruang (Helarctos malayanus),  


Harimau sumatera (Phantera tigris Sumatraensis). Jenis satwa herbivora seperti Gajah (Elephas maximus), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatraensisi), Rusa (Cervus unicolor).
Jenis satwa Aves/burung , diperkirakan ada sekitar 325 jenis burung di Taman Nasional Gunung Leuser atau sepertiga puluh dari jumlah jenis burung yang ada di dunia. Diantaranya yang paling menonjol adalah Rangkong Badak (Buceros rhinoceros).
Jenis fauna Reptilia dan Amphibia didominasi oleh jenis fauna ular berbisa dan Buaya (Crocodillus sp). Untuk fauna jenis Pisces yang menarik adalah Ikan Jurung (Tor sp), yang merupakan ikan khas Sungai Alas dan dagingnya terkenal akan kelezatannya serta bisa mencapai panjang 1 meter. Sedangkan jenis fauna Invertebrata, didominasi oleh Kupu-kupu.
Satwa langka dan dilindungi yang terdapat pada hutan Taman Nasional Gunung Leuser antara lain:
  • Orang Utan (Pongo pygmaeus abelii)
  • Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)
  • Harimau loreng Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
  • Gajah Sumatera (Elephas maximus)
  • Beruang Madu (Helarctos malayanus)
  • Burung Rangkong Papan (Buceros bicornis)
  • Anjing Ajag (Cuon Alpinus)
  • Siamang (Hylobates syndactylus)
Potensi Obyek Wisata dan Penelitian
Taman Nasional Gunung Leuser, di samping merupakan kawasan pelestarian alam yang kaya akan jenis flora dan faunanya juga kaya akan panorama alam yang indah dan dapat dijadikan obyek dalam kegiatan Ekotourism seperti berpetualang di alam bebas/berjalan-jalan di hutan, rekreasi, berkemah, mengamati burung, memancing, arung jeram/rafting dan lainnya di dalam zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Leuser. Taman Nasional Gunung Leuser juga meruapakan laboratorium alam yang terlengkap dan merupakan potensi besar untuk kegiatan penelitian serta kegiatan shooting film.
Potensi Kawasan :
Musim kunjungan terbaik adalah bulan Juni s/d Oktober. Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi, antara lain:

Gurah. Melihat dan menikmati panorama alam, lembah, sumber air panas, danau, air terjun, pengamatan satwa dan tumbuhan seperti bunga Rafflesia, Orang Utan, Burung, Ular dan Kupu-kupu.
Pemandangan di kawasan Hutan Gurah















Kluet. Bersampan di sungai dan danau, trekking pada hutan pantai dan wisata goa. Daerah ini merupakan basis harimau.
Sekundur. Berkemah, wisata goa dan pengamatan satwa. 

Bahorok
Ketambe dan Suak Belimbing. Penelitian primata dan satwa lain yang dilengkapi rumah peneliti dan perpustakaan.
Bohorok. Tempat kegiatan rehabilitasi orangutan dan wisata alam berupa panorama sungai, bumi perkemahan dan pengamatan burung.











 Gunung Leuser (3.404 m dpl), dan Gunung Kemiri (3.314 m dpl). Memanjat dan mendaki gunung. Untuk kegiatan pendakian gunung, ada 2 (dua) puncak tertinggi yang dapat dijadikan Titik Tujuan Pendakian di samping puncak gunung lainnya.

 



Arung jeram di Sungai Alas. Kegiatan arung jeram dari Gurah-Muara Situlen-Gelombang selama tiga hari.
Betung/ Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Danau Toba pada bulan Juni di Danau Toba dan Festival Budaya Melayu pada bulan Juli di Medan. Musim kunjungan terbaik : bulan Juni s/d Oktober setiap tahunnya
.




Cara pencapaian lokasi: Medan-Kutacane berjarak ± 240 km atau 8 jam dengan mobil, Kutacane-Gurah/Ketambe berjarak ± 35 km atau 30 menit dengan mobil, Medan-Bohorok/Bukit Lawang berjarak ± 60 km atau 1 jam dengan mobil, Medan-Sei Sekundur berjarak ± 150 km atau 2 jam dengan mobil, Medan-Tapaktuan berjarak ± 260 km atau 10 jam dengan mobil.

Senin, 16 April 2012

PEDULI TERHADAP TAMAN NASIONAL

Taman Nasional Salak Endah






Taman Nasional Gunung Pangrango Cibodas






1.    BAGAIMANAKAH CARA MENGEMBANGKAN DAERAH WISATA SAAT INI DENGAN KEADAAN INDONESIA YANG SEKARANG INI SELALU MENGALAMI BENCANA ALAM SEPERTI BANJIR DAN LONGSOR DI BEBERAPA DAERAH?
Cara penanganan yang paling tepat adalah membuat suatu peraturan dari pemerintah terhadap suatu objek tersebut tentang suatu larangan yang dapat menimbulkan bencana-bencana alam tersebut seperti menebangi hutan yang dapat menimbulkan banjar dan longsor, memburu suatu jenis-jenia fauna yang dapat memusnahkan jumlah spesies fauna tersebut. Kemudian Kita membuang waktu bersama, kita ciptakan hangat sebuah cerita. Seharusnya berikan pupuk terbaik untuk benih yang sudah ditanam di gunung salak endah tersebut sehingga gunung salak endah tersebut tetap terawat dan terjaga kelstariannya pada masa yang akan datang khususnya bagi generasi bangsa Indonesia.

2.    APA TUJUAN DARI PERLUASAN DAERAH TUJUAN WISATA?
Apabila industri kepariwisataan ingin berhasil dalam mengemban misinya sebagai wacana pemerataan pendapatan melalui perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, maka pembangunan kepariwisataan harus memberi perhatian pada pariwisata alternatif.  Secara umum pariwisata alternatif ini dapat didefinisikan sebagai:  Berbagai bentuk pariwisata yang sesuai dengan nilai-nilai alami, sosial dan komunitas dan yang memungkinkan baik wisatawan maupun masyarakat setempat menikmati interaksi yang positif dan bermanfaat dan bertukar pengalaman.” Selain itu tujuan nya dalah untuk melestarikan habitat-haibitat yang ada di taman wisata tersebut.
Obsesi untuk meningkatkan perolehan devisa dan manfaat ekonomi menyebabkan wisata massal tadi berwawasan jangka pendek, karena  mekanisme pembentukan harga di pasar dan proses ekonomi  cenderung kurang memperhatikan pengorbanan sosial yang ditimbulkan pariwisata, seperti sempitnya akses pada peluang kerja.

3.    TAMAN NASIONAL GUNUNG SALAK ADALAH SALAH SATU SUAKA DI INDONESIA, SAMA SEPERTI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE-PANGRANGO CIBODAS JAWA BARAT, TETAPI KEBANYAKAN ORANG LEBIH MEMILIH TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE-PANGRANGO CIBODAS.
Karena, TN Gunung Gede-Pangrango Cibodas lebih dahulu dikembangkan atau lestarikan oleh pemerintah yang peduli terhadap lingkungan daripada  TN Gunung Salak sehingga dari segi fasilitas dan akses menuju TN tersebut waktu itu lebih mudah dari taman nasional gunung salak. TN Gunung Gede-Pangrango Cibodas juga lebih dikembangkan untuk tempat wisata sedangkan TN Gunung Salak lebih dikembangkan sebagai kawasan perlindungan keanekaragaman hayati yang ada didalamnya sehingga pengunjung yang datang ke  TN Gunung Salak lebih condong untuk tujuan penelitian/ pembelajaran daripada rekreasi semata.

4.    APAKAH TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE-PANGRANGO CIBODAS MEMPUNYAI KELEBIHAN DARITAMAN NASIONAL GUNUNG SALAK.
Iya, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango Cibodas lebih terkenal di penjuru indonesia untuk pengunjung dan dalam hal marketing untuk menarik minat calon pengunjung, karena di kawasan ini juga dapat melakukan Kegiatan rekreasi lainnya seperti rekreasi ke Air Terjun Cibeureum, dan rekreasi lain dibuka sepanjang tahun. Selain itu tentang pengawasan terhadap TN Gunung Gede labih ketat dan tegas. sehingga calon pengunjung baik itu Domestik maupun International yang berkeinginan untuk rekreasi tentu akan lebih memilih untuk mengunjungi TN Gunung Gede Pangrango Cibodas daripada TN Gunung Salak.  Selain itu Sejak tahun 1980 Gunung Gede berada di dalam ruang lingkup kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), yang merupakan Taman Nasional pertama di Indonesia dari lima Taman Nasional yang sudah ada saat ini.

5.    BAGAIMANA CARA MENGEMBANGKAN DAERAH TAMAN NASIONAL GUNUNG SALAK PADA SAAT KONDISI SEPERTI INI YG DIMANA SERING TERJADI BENCANA ALAM.
Yang paling utama dalam pengembangan suatu daerah taman nasional Gunung Salak saat ini banyak-banyak memprkenalkan TN Gunung Salak ke mancanegara sehinggga akan lebih banyak lagi orang mengetahuinya inilah Indonesia yang banyak akan suatu Taman Hutan Nasional. Selain itu di dalam pengawan tidak boleh tinggal untuk melestarikan dan perawatan dan di dalam penganan taman nasional tersebut harus hati-hati dan ketat agar tidak ada lagi penyelundupan-penyelundupan yang dapat merusak taman nasional kita. Dan harus di pikirkan jugatentang kelangsungan hidup flora dan faunanya agar tidak punah.

6.    BAGAIMANA PERAN MASYARAKAT DAN PEMDA SETEMPAT DALAM MENGEMBANGKAN DAERAH TAMAN NASIONAL GUNUNG SALAK UNTUK KEDEPANNYA?
Pelibatan masyarakat dalam skema pengelolaan Taman Nasional multi-pihak dipandang sebagai suatu keharusan oleh banyak kalangan. Namun demikian, tingkat kesiapan masyarakat untuk menjalani peranan penting dalam skema pengelolaan multi-pihak masih harus ditingkatkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat pedesaan, khususnya yang menggantungkan hidupnya disekitar kawasan hutan, masih begitu termarjinalkan dalam berbagai hal. Oleh karenanya diperlukan sebuah strategi rancang tindak yang mampu menempatkan masyarakat untuk dapat berperan dalam program-program pembangunan kehutanan yang berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan penyuluhan yang berkesinambungan. UU no 41 tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 56 ayat (1) menerangkan bahwa Penyuluhan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan mampu mendukung pembangunan kehutanan atas dasar iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sadar akan pentingnya sumberdaya hutan bagi kehidupan manusia.
Sehingga jelas bahwa Program-program penyuluhan dan pendampingan masyarakat dalam pengelolaan hutan, merupakan sebuah langkah strategis dalam membuka keterbelakangan pola pikir masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya hutan.

Sabtu, 07 April 2012

Muara Angke

Taman Wisata Muara Angke
Muara Angke) adalah pelabuhan kapal ikan atau nelayan di Jakarta. Ditandai dengan dioperasikannya penunjang kebutuhan nelayan seperti pelelangan ikan (struktur dan fasilitasnya) selain kelaziman sebuah bandar yang dikelola seorang syahbandar. Secara administratif pemerintahan, Muara Angke terletak di Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara. Lokasinya berdekatan dengan Muara Karang.
Meski dikenal banyak orang Jakarta sebagai kampung nelayan, tempat pelelangan dan pelabuhan ikan serta tempat makan ikan bakar, namun Muara Angke menyimpan potensi lain. Di daerah ini, terdapat Suaka Margasatwa Muara Angke, kawasan hutan bakau seluas 25,02 hektare yang dihuni tak kurang dari 90 spesies burung.
Muara Angke merupakan bagian dari hutan bakau terakhir yang tersisa di propinsi DKI Jakarta. Kawasan hutan Angke-Kapuk yang terdiri dari Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung dan Taman Wisata Alam Angke Kapuk merupakan hutan bakau yang terakhir yang dapat dijumpai di Jakarta. Kawasan hutan ini memiliki luas keseluruhan sekitar 170,60 ha.

Asal Nama Muara Angke

Sungai Angke
Muara Angke adalah wilayah hilir dan kuala dari Kali Angke. Sedangkan kali atau sungai ini diperkirakan dinamai menurut nama seorang panglima perang Kerajaan Banten, yakni Tubagus Angke (Tubagus atau Ratu Bagus adalah gelar kebangsawanan kerajaan Banten).
Sekitar awal abad ke-16, Kerajaan Banten mengirim pasukannya untuk membantu Kerajaan Demak yang sedang menggempur benteng Portugis di Sunda Kelapa (Jakarta sekarang). Sungai di mana pasukan Tubagus Angke bermarkas kemudian dikenal sebagai Kali Angke dan daerah yang terletak di ujung sungai ini disebut Muara Angke.

 

Suaka Margasatwa Muara Angke
Suaka margasatwa Muara Angke (SMMA) adalah sebuah kawasan konservasi berdasarkan SK Menteri Kehutanan RI Nomor: 097/Kpts-II/1988, 29 Februari 1988 di wilayah hutan bakau (mangrove) di pesisir utara Jakarta. Secara administratif, kawasan ini termasuk wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara. Kawasan yang berdampingan dengan Perumahan Pantai Indah Kapuk ini, hanya dibatasi Kali Angke dengan permukiman nelayan Muara Angke. Pada sisi utara SMMA, terdapat hutan lindung Angke-Kapuk yang berada di dalam wewenang Dinas Kehutanan DKI Jakarta.

 

Sejarah

Semula SMMA ditetapkan sebagai cagar alam oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 17 Juni 1939, dengan luas awal 15,04 ha. Kemudian kawasan ini diperluas sehingga pada sekitar tahun 1960-an tercatat memiliki luas 1.344,62 ha. Dengan meningkatnya tekanan dan kerusakan lingkungan baik di dalam maupun di sekitar kawasan Muara Angke, sebagian wilayah cagar alam ini kemudian menjadi rusak. Sehingga, setelah 60 tahun menyandang status sebagai cagar alam, pada tahun 1998 Pemerintah mengubah status kawasan ini menjadi suaka margasatwa untuk merehabilitasinya. Perubahan status ini ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 097/Kpts-II/1998 sebagai Suaka Margasatwa Muara Angke dengan total luas 25,02 ha.
Meski SMMA (Suaka Margasatwa Muara Angke) merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, namun peranannya cukup penting. Bahkan BirdLife International - salah satu organisasi pelestarian burung di dunia - memasukkan kawasan Muara Angke sebagai salah satu daerah penting bagi burung (IBA, Important Bird Areas) di Pulau Jawa
Vegetasi semula di SMMA adalah hutan mangrove pantai utara Jawa, dengan keanekaragaman jenis yang cukup tinggi. Akan tetapi akibat tingginya tingkat kerusakan hutan di wilayah ini, saat ini diperkirakan hanya tinggal 10% yang tertutup oleh vegetasi berpohon-pohon. Sebagian besar telah berubah menjadi rawa terbuka yang ditumbuhi rumput-rumputan, gelagah (Saccharum spontaneum) dan eceng gondok (Eichchornia crassipes). Tercatat sekitar 30 jenis tumbuhan dan 11 di antaranya adalah jenis pohon, yang hidup di SMMA. Pohon-pohon mangrove itu di antaranya adalah jenis-jenis bakau (Rhizophora mucronata, R. apiculata), api-api (Avicennia spp.), pidada (Sonneratia caseolaris), dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha). Beberapa jenis tumbuhan asosiasi bakau juga dapat ditemukan di kawasan ini seperti ketapang (Terminalia catappa) dan nipah (Nypa fruticans). Selain jenis-jenis di atas, terdapat pula beberapa jenis pohon yang ditanam untuk reboisasi. Misalnya asam Jawa (Tamarindus indica), bintaro (Cerbera manghas), kormis (Acacia auriculiformis), nyamplung (Calophyllum inophyllum), tanjang (Bruguiera gymnorrhiza), dan waru laut (Hibiscus tiliaceus).

Keanekaragaman Satwa Di Muara Angke

Kera
SMMA merupakan tempat tinggal aneka jenis burung dan berbagai satwa lain yang telah sulit ditemukan di wilayah Jakarta lainnya. Jakarta Green Monster mencatat seluruhnya ada 91 jenis burung, yakni 28 jenis burung air dan 63 jenis burung hutan, yang hidup di wilayah ini. Sekitar 17 jenis di antaranya adalah jenis burung yang dilindungi.
Jenis burung yang sering dijumpai antara lain adalah pecuk-padi kecil (Phalacrocorax niger), cangak (Ardeola spp.), kuntul (Egretta spp.), kareo padi (Amaurornis phoenicurus), mandar batu (Gallinula chloropus), betet biasa (Psittacula alexandri), merbah cerukcuk (Pycnonotos goiavier), kipasan belang (Rhipidura javanica), remetuk laut (Gerygone sulphurea) dan lain-lain. Beberapa di antaranya merupakan burung khas hutan bakau seperti halnya sikatan bakau (Cyornis rufigastra). Selain itu, SMMA juga menjadi rumah bagi perenjak Jawa (Prinia familiaris).
SMMA juga dihuni oleh beberapa jenis burung endemik, yang hanya ada di Pulau Jawa. Misalnya cerek Jawa (Charadrius javanicus) dan bubut Jawa (Centropus nigrorufus). Bubut Jawa diketahui sebagai salah satu spesies terancam punah di dunia, dengan penyebaran terbatas di beberapa tempat saja termasuk di SMMA. Burung terancam punah lainnya yang menghuni kawasan ini ialah bangau bluwok (Mycteria cinerea). Di Pulau Jawa, bangau jenis ini diketahui hanya berbiak di Pulau Rambut yang terletak tidak jauh dari Muara Angke.

Bangau
Di samping jenis-jenis burung, di SMMA juga masih dijumpai kelompok-kelompok liar monyet kra atau juga biasa disebut monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Mereka hidup berkelompok hingga belasan ekor yang terdiri dari beberapa jantan dan betina. Makanan utamanya ialah dedaunan muda dan buah-buahan hutan bakau seperti buah pidada (Sonneratia caseolaris). Monyet ekor panjang memiliki peranan yang penting di dalam Suaka Margasatwa Muara Angke, karena membantu penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan. Biji-biji yang tak dapat dicerna itu akan dikeluarkan kembali bersama dengan fesesnya.
Jenis mamalia lain yang dapat ditemukan di SMMA, akan tetapi jarang terlihat, adalah berang-berang cakar-kecil (Aonyx cinerea). Karnivora kecil pemakan ikan dan aneka hewan air ini terutama aktif di malam hari (nokturnal).

Biawak
SMMA juga menjadi tempat hidup berbagai spesies reptilia seperti biawak air (Varanus salvator), ular sanca kembang (Python reticulatus), ular sendok Jawa alias kobra Jawa (Naja sputatrix), ular welang (Bungarus fasciatus), ular kadut belang (Homalopsis buccata), ular cincin mas (Boiga dendrophila), ular pucuk (Ahaetula prasina) dan ular bakau (Cerberus rhynchops). Menurut informasi dari warga sekitar, di SMMA masih ditemukan pula jenis buaya muara (Crocodylus porosus).

Di lihat dari sudut pandang muara angke sekarang ini betul sangat mengkhawatirkan punah, karena kurangnya perawatan khusus terhadap lokasi tersebut. Maka hal yang paling penting adalah khususnya bagi generasi mendatang baik itu para mahasiswa maupun yang lainnya adalah tidah hanya merawat, melestarikan muara angke tersebut melainkan memperkenalkan muara angke ke seluruh dunia bahwa muara angke itu adalah lokasi tempat berlangsungnya kehidupan bagi satwa-satwa yang ada di Indonesia agar tidak punah di masa yang akan datang.

Ananda Muhdiyah Ms
Saya Ananda Muhdiyah Ms ingin menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya bagi penduduk yang tinggal di seputaran kota Jakarta bahwa ayo kita lindungi flora dan fauna kita agar tidak punah di masa yang akan datang, pernah orang bijak berkata “Lebih Baik Melakukan Hal Yang Kecil Tapi Bermanfaat Daripada Berbicara 10.000 Kata”

Jumat, 06 April 2012

INDOGREEN FORESTRY EXPO


IndoGreen Forestry Expo 2012 mengusung tema “Green Growth Economy Toward 2020”.  Tema ini diambil dengan tujuan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dengan konsep Green Growth Economy Toward 2020, kita berkomitmen untuk mengelola, melestarikan, manfaat hutan dan memperbaiki ekosistem kawasan lingkungan hidup, dengan keberpihakan kepada rakyat mengelola hutan secara berkeadilan. Dimana  hal ini sesuai dengan komitmen Presiden untuk menurunkan Gas Rumah Kaca sebesar 26% dengan upaya sendiri atau sampai 41% dengan dukungan internasional, serta upaya pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun. Selain sebagai ajang promosi investasi di sektor kehutanan khususnya dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat dan penggunaan serta pemanfaatan hutan untuk sektor perkebunan, pertambangan, dan migas, pameran ini juga merupakan media pengayaan pengetahuan tentang pengelolaan hutan, penambah informasi yang sekaligus menjadi arena hiburan yang bernilai pengetahuan.


Zulkifli Hasan (MENKEHUT) 
Pameran akan diikuti oleh 111 peserta, yaitu stakeholder kehutanan, baik di pusat maupun di daerah, diantaranya Dinas Kehutanan Propinsi dan Kabupaten, Kementerian terkait, BUMN dan BUMS di bidang kehutanan, perkebunan, pertambangan, dan MIGAS serta asosiasi dan NGO peduli kehutanan dan lingkungan hidup.

Sebagai ajang sosialisasi pembangunan kehutanan, selama pameran berlangsung, akan diselenggarakan berbagai diskusi dan talkshow. Beberapa tema yang diangkat yaitu :
(1) Ekonomi Hijau dan Cinta Produk Indonesia;
(2) Pemberdayaan Masyarakat Melalui Budidaya Gaharu;
(3) Untung Berlimpah dari madu, Herba, makanan dan Produk Hutan non Kayu;
(4) Produk Update Teknologi Pemetaan Kawasan Hutan;
(5) Rekalamasi Lahan Bekas Tambang untuk Kelestarian Lingkungan Nusa Tenggara;
(6) Hutan Reklamasi Bekas Tambang untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Konservasi Lingkungan;
(7) Lomba Mengambar Tingkat SD “Hutan Untuk Masa Depan bangsa Indonesia”

”IndoGreen Forestry Expo” adalah pameran kehutanan terbesar di Indonesia yang terselenggara sejak tahun 2009, menampilkan potensi yang sangat besar pada sektor kehutanan, pengelolaan, pemanfaatan dan pelestarian hutan, hasil hutan baik kayu maupun non kayu, produk olahannya dan peralatan pemanfaatan hutan, Selain itu pameran yang di adakan oleh pemerintah ternyata di ikuti dari berbagai daerah propinsi di Indonesia .
Pameran ini juga mensosialisasikan program dan tindakan nyata pemerintah dan pihak swasta dalam melaksanakan pembangunan hutan berkelanjutan termasuk reklamasi hutan dan lahan bekas tambang.
Pada 2011, ”IndoGreen Forestry Expo” diikuti oleh 130 peserta yang terdiri dari lembaga pemerintah departemen dan non departemen, pemerintah daerah, perusahaan kehutanan, perusahaan pertambangan dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki perhatian besar pada pengelolaan, pemanfatan dan pelestarian hutan.
IndoGreen Forestry Expo 2011 telah dikunjungi oleh 10.000 orang terdiri dari pejabat pemerintah, pengusaha, mahasiswa, aktivis pecinta lingkungan, pelajar dan masyarakat umum.
”IndoGreen Forestry Expo 2012” diselenggarakan untuk mendukung program pemerintah “Forest Pro Poor, Pro Job, Pro Growth and Pro Environment” dan mendukung suksesnya “Green Growth Economy Toward 2020”. Pameran juga akan menampilkan produk dan jasa kehutanan yang ramah lingkungan hidup dan berbagai kegiatan menarik yang penting untuk diikuti seperti talkshow dan presentasi yang diharapkan akan memunculkan gagasan/ide yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan Indonesia yang hijau

MAKSUD & TUJUAN
1. Mensosialisasikan program pemerintah mengenai pemberdayaan hutan     “Forest Pro Poor, Pro Job, Pro Growth and Pro Environment”.
2. Mensosialisasikan program merealisasikan Konsep Hidup yang Hijau     Menuju Indonesia Hijau.
3. Menyebarluaskan informasi tentang kondisi hutan Indonesia
4. Menyebarluaskan potensi investasi di hutan Indonesia, potensi usaha     pengelolaan  hutan dan hasil hutan kayu dan non kayu.
5. Memfasilitasi terjadinya transaksi investasi dan bisnis
6. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan fungsi hutan sebagai paru-     paru dunia
7. Menyelamatkan hutan Indonesia dari pembalakkan liar (illegal logging)
8. Terciptanya pola-pola kemitraan dalam pengelolaan hutan dan hasil hutan.
9. Meningkatnya arus investasi khususnya untuk mengembangkan hutan     tanaman industri.
10. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Di lihat dari sudut pandang untuk mengembangkan suatu pariwisata di Indonesia tentu sangat besar pengaruh terhadap suatu lingkungan kita, contoh untuk membuka suatu objek wisata baru tentu akan membuka suatu lahan baru atau menebangi pepohonan yang ada di sekitar lokasi tesebut. Nah,,, kabar nya jika setiap hari pohon di Indonesia di tebangi tidak kemungkinan Negara kita akan menjadi Negara yang tidak lagi di sebut sebagai paru-paru dunia selain “Negara Brazil” yang dulu udaranya Indonesia ini sangat sejuk dan segar, tidak kemungkinan beberapa tahun ke depan Negara kita ini akan menjadi Negara yang panas, lancarnya perkembangan globalisasi, menipisnya lapisan ozon di permukaan bumi,
Saya Ananda Muhdiyah Ms mengajak teman-teman sekalian untuk meningkatkan kembali “Negara Indonesia” menjadi Negara yang sejuk udaranya, segar, sehingga tidak ada lagi yang namanya pencemaran polusi, datangnya bencana alam seperti longsor, banjir dan lain sebagainya.